Meskipun hanya dua tahun tinggal di Gege kelurahan Waihali pada saat SMA, kenangan masa remaja saya seolah-olah sepenuhnya saya jalani di Gege. Di awal tahun 2000 awal, kami punya kehidupan khas remaja kota kecil saat itu. Memang tidak terlalu penting untuk dituliskan di sini, tapi saya tergerak untuk mengingat kembali suasana puluhan tahun lalu itu karena mungkin hal yang sama dialami oleh orang-orang seumuran pada jamannya.
Sama seperti para remaja Gege kala itu, beberapa kali sebulan pada sore hari, kami menyewa VCD film di Rental Sri. Tontonan kami saat itu cukup membosankan karena tanpa parabola, kami hanya mengandalkan antena yang cuma punya satu chanel yaitu TVRI. Saat itu, VCD player sedang masa booming singkat sebelum hilang selamanya dari peredaran. Tahun-tahun itu lagi tenar lagu-lagu seperti MLTR, bon Jovi, M2M, Sheila on 7 dan lainnya di kalangan remaja. Ada juga lagu Jamrud yang satu albumnya saya hafal luar kepala karena terus diputar setiap hari.
Sepulang dari rental VCD, kami kadang singgah untuk menyewa buku di rental buku Fortuna. Ada banyak komik, majalah Hai, atau Buku-buku novel di sini untuk dibaca dengan biaya sewa murah. Kalau mau bacaan yang lebih serius tinggal melipir ke toko buku nusa indah depan katedral atau perpustakaan Negara yang tidak jauh dari sana. Kalau perpustakaan sekolah hanya bisa difungsikan saat istirahat lima belas menit. Seingat saya hanya satu novel Fyodor Dostoyevsky yang tuntas saya baca bersambung setiap istirahat di perpustakaan sekolah.
Di gege, kami punya pilihan untuk misa hari minggu. Kami bisa misa di paroki kami di San Juan, atau bisa di kapel terdekat St. Cornelius Pohon Bao depan pasar baru. Yang ini sudah masuk paroki lain. Kalau ada tanggungan di San Juan, bersama ibu-ibu dan bapak-bapak kami latihan koor di emperan kapel Senhor la Jari Gege. Ketua lingkungan kami saat itu Om Mige Wain.
Selepas misa, kami naik perahu ke kebun di tanah Merah. Ini hiburan paling pas di tengah aktivitas yang monoton. Waktu itu, penyeberangan rutin ke tanah merah belum ada. Hanya ada beberapa perahu yang rutin antar jemput para petani dari larantuka yang berladang di Ariona dan tanah merah. Dari pantai Gege, kami bermodalkan karung dan parang. Saat pulangnya dari kebun di pesisir Adonara, kami bawa ubi, sayur dan buah pepaya, pisang dan kayu bakar yang sangat banyak sehingga bibir sampan kadang hanya tinggal lima sentimeter dari permukaan air. Sesekali, jika muatan belum full, sampan motor ketinting singgah menjemput pedagang yang hendak ke pasar baru. Itulah saat saat awal dimulainya penyeberangan rutin bolak-balik Adonara Larantuka.
Di laut, orang gege punya kebanggaan lain lagi. Ada armada kapal fiber penangkapan ikan tuna dan cakalang yang bermarkas di gege. Setiap bulan mereka keluar ke perairan dalam untuk menangkap ikan yang dijual ke perusahaan Okishin di Waibalun. Karenanya, setiap bulan kami sering makan ikan yang dikasih langsung oleh orang-orang dari kapal. Namun saya hanya baru sekali naik kapal fiber ini. Waktu itu, orang gege ada acara sambut baru di Waiwadan. Rombongan berangkat dengan kapal fiber. Saat tiba kembali di pantai gege, saya titip tas saya ke adik yang naik sampan ke darat. Saya sendiri nyebur ke laut dan berenang ke pantai bersama puluhan orang lain daripada lama menunggu sampan yang bolak-balik. Di gege memang belum ada pelabuhan untuk bersandarnya kapal ikan ukuran sedang ini.
Saat malam, kami punya aktivitas lain. Beramai-ramai bekarang di pantai Gege. Modal kami hanya ember, keturak dan lampu senter di kepala. Karena ramai orang, tangkapan tidak banyak, tetapi cukup untuk teman nasi. Sesekali saat sore hari minggu, kami juga bisa bekarang di pantai Ariona. Di sana waktu itu ikannya besar-besar karena masih jarang orang yang bekarang.
Siang hari sepulang sekolah, seperti kebanyakan orang gege lainnya, tugas para remaja putra adalah mengurus makanan babi. Karung-karung ubi dan sayur dari kebun Ariona harus secepatnya diubah menjadi makanan babi yang dicampur ampas tahu. Sesekali juga dicampur dengan batang pisang kepok yang dicincang. Dandang besar makanan babi itu direbus di atas tungku serbuk kayu yang kami ambil di bengkel kayu Om Gula. Rata-rata para pekerja di bengkel kayu maupun losmen fortuna saat itu kami kenal baik. Mereka berasal dari pulau Solor.
Kehidupan lainnya para remaja adalah olahraga. Ya, di Gege kami punya tempat latihan tae kwon do di gudang dolog. Tapi saya tidak ikut beladiri yang ini. Hanya adik kandung saya yang ikut. Untuk olahraga, hobi saya adalah lari pagi. Saya pernah lari pagi dari gege hingga lewolere atau sebaliknya ke arah timur sampai meting doeng. Alasan saya lari pagi lebih untuk menjelajahi wilayah kota. Di siang hari, saya tidak mungkin menjelajahi kota di tengah kesibukan yang padat. Jadi saya lakukan itu pada dini hari sebelum mandi. Lari pagi sepanjang aspal, kadang lewat jalur utama, jalan bawah, juga jalan atas. Ketika di siang hari saya melakukan aktivitas tertentu di sejumlah titik di Larantuka, saya tidak terlalu asing lagi karena pernah berada sebelumnya di tempat tersebut. Dulu pun sering ada lomba lari yang dilaksanakan oleh kodim dari Watowiti ke pertokoan. Saya pernah ikut satu kali dan sampai finish. Yang juara satu waktu itu adalah orang gege pantai.
Dalam bidang kerajinan, kami juga punya pengrajin bahan bangunan yang mumpuni di gege. Dekat gudang dolog ada orang dari Kebang Beludua yang bekerja sebagai pembuat batu-bata. Setiap bulan ia produksi ribuan batu bata untuk kebutuhan bangunan di larantuka. Karena tinggal berdekatan, iseng saya juga ikut-ikutan hobi yang satu ini yang kebetulan sering saya lakukan waktu sekolah dasar. Hasil kerja saya waktu itu cukup untuk membangun sebuah rumah kecil.
Di bidang keagamaan, kami remaja SMP SMA seumuran cukup aktif. Entah benar dari hati atau dibuat-buat karena ada kewajiban dari guru agama. Kami memang diharuskan mendapatkan tandatangan dari ketua basis setiap ada ibadah di basis. Saat aksi puasa, kami para remaja ditugaskan mengumpulkan donasi bahan makanan untuk disumbangkan ke kaum difabel. Bersama tiga teman cowok dan cewek seumuran yang dipercaya, kami antar donasi itu ke sebuah titik rumah yang diminta untuk dirahasiakan. Di rumah tersebut ada dua sahabat difabel yang sehari-harinya bekerja meraut sapu lidi dan beberapa kerajinan lain. Kami sharing dengan keluarga tersebut dan ditutup dengan doa bersama. Dari cerita mereka, setiap beberapa waktu ada kunjungan dari biarawati ke titik tersebut untuk pelayanan. Kami kebetulan tahu lokasi tersebut karena pengurus basis kami adalah penggiat LSM. Semoga mereka tetap sehat dan menjalani hari-harinya tanpa kehilangan kualitas diri dan martabatnya.
Satu hal lagi, orang nagi akan punya kebanggaan kalau terlibat dalam perayaan Semana Santa. Itu termasuk di keluarga yang saya tinggal. Mereka dengan semangat mempersiapkan segalanya termasuk membuat lilin dengan cara direbus. Keluarga ini membeli lilin kecil untuk diubah menjadi lilin besar. Berminggu-minggu kegiatan ini dilakukan dengan sabar.
Di gege pula saya menjalin sejumlah pertemanan untuk sekadar aktivitas kecil misalnya untuk latihan sepeda (saya dikasih sepeda oleh guru saya Pak Nyoman). Saya juga dilatih gitar oleh tetangga saya orang Boru, dan pernah diajak untuk pertama kalinya makan bakso. Karena berasal dari keluarga petani di pedalaman, bagi saya bakso adalah makanan mahal yang tidak terjangkau saat itu. Syukur saya bisa menikmatinya waktu itu sehingga tidak ketinggalan jaman.
